• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Wednesday, December 10, 2025
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
VivaIndonesia.News
  • Home
  • Headline
  • Nusantara
  • Daerah
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Opini
  • Home
  • Headline
  • Nusantara
  • Daerah
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
Viva Indonesia
No Result
View All Result
Home Nusantara

Sekolah Demokrasi Beberkan Ancaman Serius bagi Demokrasi RI

by Viva Indonesia
December 1, 2025
in Nusantara
0
Sekolah Demokrasi Beberkan Ancaman Serius bagi Demokrasi RI
0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta — Universitas Paramadina bersama Universitas Diponegoro, LP3ES, KITLV Leiden, dan INDEF kembali membuka Sekolah Demokrasi Angkatan VIII bertema “Mencegah Keruntuhan Institusi dan Membangun Kembali Demokrasi.” Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 28–29 November 2025, digelar di Kampus Paramadina Kuningan dan Cipayung.

Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Suharnomo, dalam sambutan pembukaan menegaskan bahwa kondisi demokrasi Indonesia berada pada fase krusial. Ia menilai penguatan institusi menjadi prioritas mendesak di tengah melemahnya lembaga pengawasan dan semakin terhimpitnya ruang kebebasan sipil.

“Demokrasi tidak cukup hanya mengandalkan prosedur seperti pemilu atau pergantian kepemimpinan. Kita membutuhkan institusi yang kokoh untuk menjaga legitimasi politik dan ruang publik tetap sehat,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa ketika institusi demokrasi rapuh, dampaknya tidak hanya mengganggu kebijakan, tetapi juga mengancam masa depan bangsa.

Wakil Rektor Bidang Pengelolaan Sumber Daya Universitas Paramadina, Dr. Handi Risza Idris, turut mengangkat dilema klasik: apakah demokrasi harus mendahului pembangunan ekonomi atau sebaliknya. Menurutnya, konteks Indonesia berbeda dengan negara-negara Eropa yang menumbuhkan ekonomi lebih dulu sebelum demokrasi berkembang.

“Reformasi 1998 menjadikan demokrasi dan pembangunan ekonomi tumbuh beriringan, sering kali bahkan saling dipertentangkan,” jelasnya. Namun ia menegaskan bahwa perdebatan tersebut kini tidak lagi relevan.

“Demokrasi dan ekonomi bukan dua kutub yang harus dipilih. Keduanya adalah pilar yang saling memperkuat dalam menghadirkan kesejahteraan, sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945,” tegas Handi.

Di sesi berikutnya, Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memaparkan dinamika pemberantasan korupsi selama dua dekade terakhir. Ia melihat perjalanan KPK sejak awal berdirinya pada tahun 2000 hingga kini mengalami pasang surut signifikan.

“KPK adalah simbol tekad bangsa untuk membersihkan budaya korupsi. Ia bukan sekadar lembaga, tetapi representasi komitmen politik dan sosial untuk menjaga demokrasi,” kata Wijayanto. Ia membagi perjalanan itu ke dalam tiga periode: era Gus Dur, era SBY, dan era Jokowi, yang masing-masing memiliki corak pencapaian berbeda.

Wijayanto menyebut periode 2007–2019 sebagai masa ketika pemberantasan korupsi melaju dengan progres nyata. Namun titik balik terjadi pada revisi UU KPK tahun 2019 yang melemahkan independensi lembaga tersebut.

“Sejak revisi itu, ruang gerak KPK semakin terbatasi oleh struktur politik dan administratif,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa melemahnya KPK bukan hanya persoalan lembaga, tetapi pukulan terhadap struktur demokrasi dan tata kelola negara.

Ia juga menyoroti persoalan dramatisasi kerugian negara dalam beberapa kasus. Menurutnya, perhitungan kerugian harus berbasis nilai faktual, bukan estimasi yang berlebihan.

“Di beberapa negara maju, kerugian dihitung berdasarkan nilai nyata. Di sini, angka sering terlihat besar karena metode penghitungan yang tidak konsisten,” kata Wijayanto, mencontohkan kasus pengadaan kapal ASDP yang dinilai ‘besi tua’ padahal merupakan investasi strategis.

Melihat situasi tersebut, ia menilai pemerintahan Presiden Prabowo masih memikul pekerjaan besar: mengembalikan independensi KPK, menata ulang hambatan administratif, mengakhiri dramatisasi kasus, serta menyusun standar pengukuran kerugian negara yang lebih ilmiah.

“Pemberantasan korupsi bukan soal menciptakan sensasi di media sosial. Ini tentang membangun kepercayaan publik dan memperkuat demokrasi,” tegasnya.

Sementara itu, Redaktur Penerbitan LP3ES, Malik Ruslan, mengajak peserta memahami bahwa korupsi tidak bisa dipandang hanya sebagai pelanggaran hukum atau administrasi, tetapi juga persoalan budaya politik dan moral publik.

Menurutnya, praktik-praktik sosial seperti budaya pemberian, hubungan patronase, dan norma sosial yang permisif membuat korupsi sulit diberantas hanya melalui penguatan regulasi.

“Setangguh apa pun sistemnya, ia akan runtuh jika manusianya tidak berubah. Pendidikan moral, budaya transparansi, dan kritik publik harus berjalan seiring,” kata Malik.

Melalui rangkaian diskusi ini, para akademisi menekankan pentingnya literasi demokrasi, penguatan institusi, dan perubahan budaya politik sebagai fondasi dalam menjaga keberlanjutan demokrasi Indonesia.(*)

Viva Indonesia

Viva Indonesia

Next Post
Dunia Penyiaran dalam Bahaya? Simak Hasil Diskusi Publik Moestopo dan KPI!

Dunia Penyiaran dalam Bahaya? Simak Hasil Diskusi Publik Moestopo dan KPI!

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Retreat Kepala Daerah Kunci Sinergitas Pusat dan Daerah, Seruan Ketum PDIP Tidak Relevan

10 months ago

Pemerintah Terus Gencarkan Edukasi Kepabeanan bagi Pekerja Migran Indonesia

6 months ago

Berita Populer

  • Pemprov Kaltim Akan Terapkan Rekayasa Lalu Lintas Jembatan Mahakam

    Pemprov Kaltim Akan Terapkan Rekayasa Lalu Lintas Jembatan Mahakam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jasa Raharja Samarinda Gelar Pengobatan MUKL di Dermaga Pasar Pagi Samarinda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mendukung Komitmen Pemerintah dalam Pembahasan RUU KUHAP Secara Transparan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Kerja Sama dengan Platform Digital Lindungi Anak dari Ancaman Judi Daring

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Enam Paket Stimulus, Langkah Presiden Prabowo Percepat Pertumbuhan Ekonomi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Connect with us

No Result
View All Result

Category

  • Daerah
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Nusantara
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org

About Us

Selamat datang di vivaindonesia.news. Portal berita informatif dan santun.

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

© 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Headline
  • Nusantara
  • Daerah
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Opini

© 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In