TENGGARONG – Pelaksanaan Pembukaan Festival Budaya Erau Adat Kutai 2026 di Stadion Rondong Demang, Tenggarong, Minggu (20/9/2026), diwarnai protes dari tiga organisasi kemasyarakatan (ormas) daerah.
Tiga ormas yang tergabung dalam Aliansi Tiga Ormas Daerah, yakni Remaong Koetai Berdjaya (RKB), Kayuh Baimbai, dan Remaong Kutai Menamang (RKM), menyampaikan protes kepada panitia Erau terkait pelaksanaan pembukaan Erau yang tahun ini mengusung tema “Raja Menjamu Rakyatnya”.
Mereka mempersoalkan keterlibatan ormas daerah dalam rangkaian kegiatan, khususnya pada prosesi kirab budaya yang menjadi bagian dari pembukaan Erau.
Perwakilan Aliansi Tiga Ormas Daerah, Hebby Nurlan Arafat, didampingi Ketua Umum Remaong Kutai Menamang Kadir dan Ketua Kayuh Baimbai Arnod, menyampaikan langsung keberatan tersebut kepada media ini, Minggu (20/9/2026).
Aliansi tiga ormas daerah tersebut menyatakan merasa kecewa karena tidak dilibatkan dalam kirab budaya. Mereka menilai, sebagai organisasi daerah yang berada di tanah Kutai Kartanegara, semestinya memiliki ruang untuk ikut ambil bagian dalam momentum budaya yang mengangkat adat dan identitas daerah.
“Kami merasa sangat kecewa kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Di acara Erau Adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, kami dari Aliansi Ormas Daerah merasa dikucilkan dan tidak dihargai di tanah kami sendiri,” ungkapnya.
Kadir menegaskan, persoalan keterlibatan tersebut menjadi perhatian serius bagi pihaknya. Menurut dia, ormas daerah tidak semestinya hanya menjadi penonton dalam pelaksanaan kegiatan budaya yang berlangsung di daerah sendiri.
“Masa kami ormas daerah jadi penonton, harusnya jadi tuan rumah di wadah sorang,” ucapnya.
Aliansi tiga ormas tersebut juga meminta panitia Erau memberikan klarifikasi atas tidak dilibatkannya mereka dalam kirab budaya.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara memberikan penjelasan terkait pelaksanaan rangkaian pembukaan Erau 2026.
Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokompim) Setkab Kukar, Ismed, mengatakan pelaksanaan prosesi pada pembukaan Erau mengikuti arahan dari pihak Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Menurutnya, terdapat penyesuaian dalam prosesi karena mempertimbangkan kondisi situasi dan cuaca saat pelaksanaan kegiatan.
“Kami mengikuti arahan dari Kesultanan juga. Karena situasi dan cuaca, maka diminta seserahan dilakukan secara simbolis dan dipersingkat, dengan menggabungkan sekaligus perwakilan semua suku yang ada di Kukar,” jelas Ismed.
Penjelasan tersebut menjadi bagian dari klarifikasi Pemkab Kukar terkait teknis pelaksanaan prosesi pembukaan Erau 2026 demi kebaikan dan kepentingan bersama. (*)

